cool hit counter

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar - Persyarikatan Muhammadiyah

 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar
.: Home > Berita > Sang “Tikus Putih” Pedakwah Muhammadiyah Dari Lereng Gunung Lawu

Homepage

Sang “Tikus Putih” Pedakwah Muhammadiyah Dari Lereng Gunung Lawu

Senin, 12-08-2019
Dibaca: 225

Sugino dengan kandang ternaknya (Dok. PaksiH)

 

KARANGANYAR - Perawakannya tidak terlalu besar dengan rambut ikal dan kulit sawo matang, anak muda ini memiliki semangat dakwah berkemajuan dan jiwa wira usaha yang cukup besar, namanya cukup singkat “Sugino” biasa dipanggil mas Sugino. Mengapa dijuluki Sang “Tikus Putih”????? ikuti ulasan profilnya. Tinggal di sebuah dusun yang membentang diantara dua bukit dengan tebing yang cukup curam, Sumbersari nama dusun yang memanjang sekitar lebih dari tiga kilometer. Jalan masuk yang sudah permanen dengan cor sangat curam, membuat orang luar yang baru masuk ke dusun Sumbersari akan menarik nafas panjang dan butuh keberanian ekstra untuk naik kendaraan baik mobil maupun sepeda motor melawati jalan yang turun curam dengan kelokan-kelokan ekstrim kurang dari sembilan puluh derajat  sudut keloknya.

 

Untuk pertama kalinya saya (baca : penulis) masuk ke dusun di lereng sebelah barat gunung Lawu ini sempat merasa takjub sekaligus “ngeri-ngeri sedap” (istilah beken salah satu tokoh politik republik ini yang sudah almarhum) atas perjuangan mas Sugino. Akses jalan permanen satu-satunya ini dibangun belum begitu lama, dengan fasilitas penerangan jalan yang seadanya dan masih sangat jarang bahkan tentunya akan semakin gelap ketika melewati daerah-daerah tertentu dengan rerimbungan pohon dan kanan-kiri jalan berupa jurang menganga.

 

Lajang kelahiran tahun 1991 merupakan bungsu dari enam bersaudara anak pasangan Kromo Suwiryo – Tumi, masa kecil dilalui dengan pendidikan dasar pada SD Negeri 01 Gumeng pada tahun 2003 kemudian melanjutkan SMP Ta’mirul Islam dan SMK Adi Sumarmo hingga lulus tahun 2009. Pada masa ini mas Sugino tinggal di Panti Asuhan Hj. Patisah Surakarta 2003-2006 dan Pesantren Al Ihsan Ngresep Boyolali hingga tahun 2009. Semangat belajar yang tinggi membuatnya rela meninggalkan kampung halamannya untuk tinggal di panti asuhan dan pondok, bahkan mengantarkannya untuk dapat menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi pada Fakultas Universitas Muhammadiyah HAMKA (UHAMKA) Jakarta hingga lulus 2017 ini menjadikan dia satu-satunya lulusan sarjana strata 1 (S1) di dusunnya selain tidak lebih dari tiga orang sarjana muda.

 

Ketertarikan dan kemauan berdakwah melalui ormas Islam Berkemajuan besutan Kyai Ahmad Dahlan secara total digeluti oleh pemuda ini ketika kuliah di Fakultas  Farmasi UHAMKA dengan aktif menajadi pengurus pada Komsariat IMM Farmasi UHAMKA sebagai Sekretaris Bidang 2012-2013 dan Ketua Bidang Dakwah 2013-2014, tidak hanya sampai disitu kiprah anak muda yang punya mental wira usaha ini keberadaan di ibukota dimanfaatkan untuk aktif sebagai relawan MDMC PWM DKI Jakarta mulai tahun 2016.

 

Kecintaannya pada tanah kelahiran untuk ikut berpartisipasi membangun dusun membuat dan membulatkan tekad untuk pulang kampung meskipun di Jakarta sudah merintis usaha sejak masih kuliah. “Darah” Muhammadiyah yang telah mengalir ditubuhnya membuat anak kampung ini tetap berkiprah di persyarikatan melalui Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngargoyoso. Sebuah kecamatan yang dalam gerakan Muhammadiyah termasuk lambat pada masa-masa dahulu, indikatornya belum begitu banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang ada dibandingkan PCM-PCM yang lain di Kabupaten Karanganyar.

 

Sebelum membahas kiprah dakwah “Pencerahan” dengan membawa model dakwah Sang Surya di dusun Sumbersari penulis angkat tentang jiwa pengusaha atau entrepreneurship Sang “Tikus Putih” ini. Sejak usia sekolah kelas empat Sekolah Dasar mas Sugino ini sudah memiki jiwa wira usaha, terbukti sejak masih tinggal di kampungnya sebelum harus hijrah ke kota Surakarta atau Solo dia sudah sekolah sambil jualan sari Kacang Ijo. Dengan hasil yang tentu belum seberapa setidaknya bisa menjadi tambahan uang sekolah, karena mas Sugino kecil menyadari sebagai anak orang tidak mampu.

 

Jiwa usaha yang ada pada dirinya karena alasan tertentu harus tersimpan tanpa terslaurkan sejak ia tinggal di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren hingga lulus dari SMK. Namun mental pengusaha itu mulai tumbuh lagi ketika mas Sugino mempunyai kesempatan dan melihat peluang ketika masa sebelum dan hingga kuliah pada Fakutas Farmasi UHAMKA, ia menyediakan alat-alat praktik dan bahan penelitian bagi mahasiswa farmasi pada salah satu Universitas Muhammadiyah yang ada di Jakarta ini. Usaha ini harus ia hentikan seiring dengan keputusannya untuk pulang dan mengabdi di kampung halamannya.

 

Diluar kesibukan pembinaan jama’ah dan aktivitas di PCM Ngargoyoso, mas Sugino pada tahun 2018 memulai merintis usaha ternak Tikus Putih dari sinilah julukan Sang “Tikus Putih” ini kita sematkan kepada aktivis dakwah ini. Tidak tanggung-tanggung totalitas mas Sugino merintis usaha yang bagi sebian waarga dikampung maupun warga Muhammadiyah ini, tidak jarang ada orang yang jijik dengan hewan pengerat ini. Bagi mas Sugino tidak demikian dengan hal ini, ini ada peluang yang menghasilkan income dari usahanya. Bukti keseriuasan mas Sugino adalah dengan mendirikan badan usaha berbentuk CV yang diberinama “CV. Dunia Kaca” (apa makna nama CV ini penulis belum menelusuri lebih jauh). Dengan badan usaha ini usaha ternak tikus putih kader Muhammadiyah ini telah mengantongi rekomendasi budidaya tikus putih dari Kantor Dinas Peternakan dan juga memiliki identifikasi (Serifikat Galur) dari Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), tentunya ini bukan main-main dalam menggeluti usaha.

 

Dalam hal dakwah islam berkemajuan, anak muda ini layak mendapat apresiasi bahkan dalam beberapa kesempatan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar Drs. H. Muhammad Samsuri, M.SI. membeikan pujian terkait medan berat dan kultur masyarakat yang ada di dusun binaan mas Sugino ini. Ketika memutuskan pulang dan tinggal di kampung selain tantangan pembangunan masyarakat desa mas Sugino juga mendapati kenyataan bahwa islam yang sesungguhya belum menyentuh dan sampai kepada saudara-saudara dikampungnya.

 

Kenyataan itu dapat dibuktikan dengan lokasi yang boleh dikatakan terpencil  itu dengan populasi warga sekitar 250an jiwa dan sebaran penduduk ditebing dan lembah sepanjang tidak kurang tiga kilo meter belum memiliki satupun masjid dalam wilayah satu RW ini. Menurut mas Sugino Sang “Tikus Putih” ini yang ada hanyalah sebuah Mushola yang ada di rumah salah satu tokoh masyarakat disana yang jaraknya dari rumah paling ujung masuk kampung tidak kurang dari dua kilometer dengan medan jalan yang curam dan gelap pada malam harinya.

 

Kondisi ini yang menggugah hati Sang “Tikus Putih” untuk berusaha bisa memilki masjid di kampungya, dengan perjuangan berat ia berusaha mewujudkan cita-cita itu. Mengapa berat? Setidaknya ada beberapa alasannya, secara penduduk meskipun sudah ada yang islam termasuk keluarga mas Sugino hanya mengenal islam sebagai agama “warisan” yang hanya tau turun temurun dari orang tuanya dan bahkan sebagian besar termasuk salah satu tokoh masyarakatnya yang memilki Mushola masih mencampurkan antara ajaran islam, budaya dan mistik. Dalam sejarahnya dusun Sumbersari ini secara geografis lebih dekat dengan kecamatan Jenawi yang dalam sejarah Kerajaan Majapahit menjadi tempat persinggahan terakhir Raja Brawijaya yang merupakan raja terakhir Majapahit dengan petilasannya berupa Candi Cetho. Tidak heran jika warga sekitar banyak didominasi dengan kepercayaan agama Hindu. Kesulitan lain yang dihadapi mas Sugino kala itu adalah kenyataan bahwa aparat pemerintah di Didesa Kemuning dari Kepala Desa, Ketua RT beragama non Islam dan ketua RW meskipun muslim belum seide dengan dakwah Muhammadiyah. Bahkan cita-cita memiliki masjid ini hampir gagal karena selain faktor tadi juga pemahaman warga tentang Muhammadiyah ini masih sekedar dari sumber-sumber yang bukan Muhammadiyah lebih pada katanya-katanya.

 

Alhamdulilah atas dukungan beberapa pihak dan usaha keras mas Sugino dan warga, terwujud bisa memilki masjid dengan nama Fahad Madi Al Harbi yang merupakan donasi beberapa pihak, warga dan Yayasan Bina Muwahidin yang berkantor di Surabaya dan sudah bekerjasama dengan PDM Kabupaten Karanganyar dalam pendirian masjid dari donatur di Arab Saudi. Lebih hebatnya lagi masjid Fahad ini dibangun berdampingan dengan Pura yang menjadi tempat ibadah umat Hindu setempat.

 

Fakta dan persepsi sebagian masyarakat terhadap Muhammadiyah perlahan mulai berubah dan mendapat tempat di hati masyarakat setempat, bahkan setelah beberapa kali tabligh yang menghadirkan pembicara ketua PDM Kabupaten Karanganyar bisa sangat diterima warga. Selain dari itu dakwah yang dilakukan mas Sugino memang tidak “frontal” namun dengan memahami kultur dan kondisi warga sekitar dengan tidak menyentuh hal-hal sensitif dalam amalan namun dilakukan bertahap dan perlahan utamanya bagi orang-orang tua dengan latar belakang pendidikan yang sangat minim.

 

Tidak cukup sampai disitu apa yang dilakukan kader Sang “Tikus Putih” ini untuk mendorong warganya agar mau ngaji, setiap seminggu sekali pada Ahad pagi ia rela mengangkut sebagian warganya untuk ikut pengajian baik ke lokasi pengajian Ahad Pagi binaan Muhammadiyah maupun yang lain dengan jarak tempuh lima sampai sepuluh kilo meter. Prisip dari mas Sugino yang penting warganya mau ikut ngaji terlebih dahulu.

 

Tantangan dakwah tidak berhenti sampai disitu, selain kondisi sebagian besar warga yang boleh dikata kurang mampu dan juga kurangnya pemahaman agama menjadikan sebab dalam kegiatan keagamaan semisal Idul Adha masih minus partisipasi warga untuk berkurban. Mas Sugino tidak meyerah, ia berusaha setiap tahun bisa menyembelih hewan qurban bagi warganya dengan mengajukan kepada masjid-masjid atau shahibul qurban diluar daerah. Untuk tahun 2019 ini kebutuhan hewan qurban ditambah dari Lazismu PDM Karanganyar melalui bakti sosial PC IMM Karanganyar.

 

Masih banyak cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Sang “Tikus Putih” ini dalam rangka mewujudkan Sang Surya bersinar terang di kampungnya. Mimpi itu adalah adanya guru TPA yang rutin, pengiriman anak-anak ke sekolah Muhammadiyah secara gratis sebagai calon kader dan adanya tabligh secara rutin bagi warganya yang saat ini bisanya dilakukan malam hari karena kebanyakan warga aktivitas berladang sampai sore menjelang magrib. Tentunya ini menjadi tantangan yang perlu mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan dalam menegakkan dakwah amar ma’ruf nahy munkar dengan islam berkemajuan. Semoga tantangan ini medapat kan jalan mudah dari Allah SWT. Aamiin. (Ditulis dari wawancara kepada mas Sugino dalam acara Bakti Sosial IMM-Lazsimu oleh MPI PDM Karanganyar – Mas JOe dan PaksiH, 10 Zulhijjah 1440 H).

 


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: profile pedakwah



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website